Memplot Mahfud MD sebagai “Malaikat Penjaga” Sri Mulyani

MMD Guardian Angel SMIi

Jangan sampai kedua tokoh ini gagal maju di pilpres 2014.

Gagasan yang saya lempar untuk menyandingkan Mahfud MD (MMD) dengan Sri Mulyani Indrawati (SMI) mendapat tanggapan beragam. Ada yang setuju, ada yang menolak. Ada yang menganggap bagus kalau MMD di posisi depan dan SMI di belakang (MMD-SMI), namun tak sedikit pula yang meminta sebaliknya (SMI-MMD).

Bahkan, seorang pendukung SMI di KPI-SMI (grup FB Kami Percaya Integritas SMI) yang memandang pencapresan SMI adalah harga mati. Sebaliknya, ada juga pendukung MMD di grup FB lainnya yang menganggap MMD yang lebih layak dicapreskan. Perdebatan semacam ini wajar, bisa dipahami, absah, bagus, sekaligus memeriahkan pewacanaan pencapresan kedua tokoh ini.

Di sini saya akan mengupas mengapa untuk saat ini pewacanaan pencapresan dengan kombinasi MMD-SMI terasa lebih strategis dibanding sebaliknya. Walaupun, ini tentu saja bukan formasi mutlak atau permanen. Sebab, masih ada alat-alat penajam formasi ke depannya, seperti survei elektabilitas serta perkembangan/dinamika politik ke depan.

Alasan pertama dan yang utama adalah bahwa sampai detik ini, posisi SMI masih cukup rawan dari gencarnya hantaman lawan-lawan politiknya, baik yang dari Pansus Century, ormas-ormas, tokoh-tokoh, individu-individu, maupun kelompok-kelompok yang sangat meyakini bahwa SMI bersalah. Kelompok anti SMI ini cukup kuat saat ini, mampu memobilasi opini negatif, mampu menembus segala macam media, dan cukup aktif menyerang kredibilitas SMI.

Memajukan SMI ke pencapresan adalah aspirasi tertinggi para simpatisan dan pendukung SMI. Tetapi kalau itu tidak dikemas dengan taktis, itu sama saja menyirami jerami dengan bensin dan menyulutnya dengan api. SMI akan menjadi fokus dan sasaran tembak utama bagi kampanye negatif oleh para pembencinya.

Situasi tersebut tidak kondusif bagi pencapresan SMI, terlebih dalam situasi SMI sendiri belum secara definitif menyatakan kesanggupannya untuk dicalonkan sebagai presiden. Sebab menyatakan kesanggupan terlalu dini juga berbahaya. Politik di Indonesia kurang menyukai orang-orang atau tokoh yang dipersepsi terlalu ambisius terhadap suatu jabatan, apalagi jabatan puncak.

Belajar dari pilpres-pilpres yang lalu, sudah tak terhitung tokoh-tokoh nasional yang “mendeklarasikan diri” sebagai capres tetapi sepi dukungan. Maksud dan keberaniannya sih perlu diapresiasi, tetapi kemasan dan pembacaan situasi medannya tidak taktis.

Dengan alasan itu, menempatkan SMI dalam pencapresan tetapi di posisi yang “sedikit” lebih ke belakang, menurut saya, adalah sesuatu yang relatif lebih aman untuk saat ini. Namun pada saat yang sama, energi pencapresan itu sendiri harus terus digemakan mulai sekarang untuk meningkatkan elektabilitas.

Alasan kedua menyangkut kekuatan dari sosok Mahfud MD sendiri. Ruhut Sitompul, politisi vokal Demokrat itu pernah menyitir sebuah hasil survei LSI yang menempatkan Mahfud MD sebagai capres terkuat di 2014. Lepas dari kebenaran survei tersebut, saat ini MMD memang mulai disebut-sebut sebagai sosok yang pantas maju ke pilpres 2014.

Dari segi pengetahuan/intelektualitas, ketokohan, wawasan kenegaraan, pengalamannya di perpolitikan nasional (pernah di PAN & PKB), pernah menjadi Menteri Hukum dan Ham serta Menteri Pertahanan, juga posisinya sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi sekarang, menempatkan MMD sebagai figur yang diperhitungkan.

Pengalaman MMD memutus perkara-perkara mendasar dalam sistem ketatanegaraan di MK, menjaga konstitusi, dan lebih khusus lagi menjadi penjaga keadilan dalam perkara-perkara pemilukada, itu menuntut MMD untuk selalu bersikap adil dan tegas. Level pengambilan keputusan yang ada dalam domainnya adalah level puncak dan sangat strategis.

Sebagai salah satu pilar sistem ketatanegaraan, saya anggap posisi MMD di MK saat ini sama strategisnya dengan posisi pejabat-pejabat di lembaga-lembaga tinggi negara lainnya, seperti di MPR, DPR, DPD, MA, bahkan Lembaga Kepresidenan sekalipun. Ini untuk membedakan “kualitas” ketokohan dan wawasan kenegarannya dibandingkan nanti, misalnya, kalau dihadapkan dengan capres-capres yang masih muda atau belum punya track record mumpuni untuk jabatan kepresidenan.

Dari fakta tersebut, apabila disandingkan dengan SMI dengan segala kompetensi, pengalaman, wawasan, dan track recordnya, maka pasangan MMD-SMI ini jelas memiliki bobot yang besar. Bahkan, mungkin ini bisa menjadi satu formula yang kokoh dan sulit dicari padanannya, kecuali kalau isu di bawa ke formula sipil militer (hal mana menurut saya tidak lagi menjadi harga mati dalam kandidasi ke depan).

Lalu pertanyaannya, apa hubungannya dengan formulasi yang menempatkan MMD di depan dan SMI di belakang? Bukankah para pendukung SMI atau bahkan kita semua mengakui kualitas SMI juga sangat layak untuk di posisi depan? Sekali lagi ini soal strategi dan kemasan pada saat sekarang dan kita masuk ke alasan ketiga.

Alasan ketiga dari formulasi pencapresan MMD-SMI itu adalah untuk menjaga SMI dari terjangan perlawanan yang teramat masif pada awalnya, dan sekaligus menempatkan kekuatan ketokohan MMD sebagai tameng. MMD adalah sosok yang nyaris tanpa gores politis, sangat anti korupsi, tegas, dan selama di MK mampu berada di atas semua golongan, sehingga dia diakui memiliki bobot integritas tinggi.

Dalam pewacanaan pilpres, posisi di depan adalah bidikan utama kampanye perlawanan. Menempatkan MMD di depan dan SMI di belakangnya relatif sedikit merepotkan lawan-lawan politik dalam menyediakan amunisi, terlebih sasaran tembaknya punya semacam “imunitas” yang terbangun oleh integritasnya. “Imunitas” seperti ini mudah menggiring lawan-lawan politik untuk memproduksi isu-isu murahan dan justru nantinya menjadi bumerang buat mereka sendiri.

Pertanyannya, apakah dengan formulasi MMD-SMI itu cukup menjual dan bisa mengamankan SMI seperti alasan pertama? Kalau soal menjual, survei-survei elektabilitas ke depannya yang bisa menjawab. Lalu apakah itu bisa mengenyahkan gencarnya serangan terhadap SMI? Kalau menghilangkan sama sekali tidak, tetapi bisa menurunkan intensitasnya.

Namun, dari gain yang tampak sederhana semacam ini, pendukung MMD-SMI sebenarnya memiliki ruang-ruang yang lebih leluasa untuk mengatur strategi-strategi lanjutan lainnya, terkhusus lagi pada 1-2 tahun ke depan. SMI bisa diselamatkan dari “pengadilan” yang terlalu prematur atas pencapresannya. Namun pada saat yang sama, strategi pewacanaan pasangan ini sudah mulai bisa digaungkan sejak detik ini juga, sama seperti Ketua Umum Golkar sudah bergerilya di seluruh penjuru nusantara.

Pada saat yang sama, pewacanaan MMD-SMI juga memberi ruang bagi kedua tokoh itu untuk terus menyamakan persepsi. Semakin cukup waktu kesepahaman dan visi bersama dibangun, semakin besar pula keseiramaan mereka dalam melangkah nanti. Sementara, kelanjutan strategi pemosisian atau formulasi MMD-SMI ini masih terus bisa dievaluasi dan disiasti begitu survei-survei elektabilitas yang semakin presisi sudah mulai muncul.

Tetapi yang menjadi catatan tebal dari gagasan ini adalah: Kedua sosok berintegritas ini harus diselamatkan dan diproyeksikan dalam kandidasi kepresidenan 2014. Terlalu sayang dan terlalu rugi republik ini jika mereka tidak diberi kesempatan untuk mengabdi dalam posisi yang utama. Dan kalau ide tersebut disepakati, maka inilah saatnya untuk berstartegi dan beraksi. Salam.[tj]

Baca juga diskusi menari tentang kendaraan politik MMD-SMI pada 2014.

About MAHFUD MD - SRI MULYANI FOR 2014

Menggagas Duet Mahfud MD dan Sri Mulyani Indrawati pada Pilpres 2014
This entry was posted in Duet Mahfud MD-Sri Mulyani, Gagasan Strategis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s