Plus Minus Parpol Baru untuk Mengusung Mahfud MD-Sri Mulyani di Pilpres 2014

capres 2014

Belajar dari pengalaman parpol-parpol baru pengusung capres.

Sekalipun di tulisan “Ini Dia Kendaraan Politik Mahfud MD-Sri Mulyani di Pilpres 2014” saya sudah menegaskan bahwa meningkatkan popularitas dan elektabilitas adalah pilihan utama, tetapi saya juga ingin menimbang pilihan-pilihan lainnya. Sebab bagaimanapun pilihan-pilihan kendaraan politik lain juga menyita perhatian pendukung kedua tokoh ini. Mari kita bedah plus minus masing-masing pilihan tersebut dan kita mulai dari ide pembentukan partai baru.

Pilihan membuat partai baru ini sudah ada presedennya, yaitu saat SBY berhasil mendirikan Partai Demokrat dan menjadikannya kendaraan politik pada pemilu 2004 lalu. Solusi ini memecah kebuntuan saat tokoh yang diduga memiliki popularitas tinggi dan elektabilitas kurang dilirik partai-partai besar, masih diragukan kekuatannya, atau berseberangan secara kepentingan.

Akan tetapi strategi parpol baru tersebut harus dilihat dari situasi saat itu, di mana masyarakat sedang mengalami kebuntuan politis dengan sepak terjang Megawati, dan di sisi pamor SBY memang sedang bagus-bagusnya. Hampir semua media ikut andil mempromosikan SBY habis-habisan sebagai kekuatan baru yang dianggap bisa menandingi Megawati.

Selain itu, Partai Demokrat mengembang dan membesar karena ketokohan SBY yang begitu sentral dan keberaniannya pasang badan mendirikan partai tersebut. Dengan keberanian itu, SBY menunjukkan ketokohan dan leadershipnya, dan saat media begitu kondusif maka sambutan masyarakat pun tak kalah bergairahnya. Sehingga, tak sedikit tokoh-tokoh sosial-politik-ekonomi saat itu berani bergabung secara terang-terangan.

Situasi kondusif lain, pada saat yang bersamaan parpol-parpol lain tidak memiliki kandidat yang kuat popularitas dan elektabilitasnya dibanding SBY dan Mega. Mereka yang bergabung di Partai Demokrat pun kita tahu merupakan sempalan dari partai besar lain seperti Partai Golkar (atau partai-partai kecil sempalan Partai Golkar). Jadi, aktivis di Partai Demokrat awal bukanlah sekadar simpatisan atau asal pendukung, tetapi tak sedikit yang merupakan orang-orang struktur parpol yang sudah ada. Konsekuensinya, dalam hal penggalangan massa dan dukungan, soal organisasi, soal strategi, mereka bukan orang-orang hijau dalam politik. Mereka yang ada di barisan Partai Demokrat benar-benar ready for use.

Nah, pada pilpres 2014 nanti, apakah pendukung MMD-SMI memiliki kondisi2 di atas? Atau setidaknya mampu menciptakannya?

Untuk popularitas tokoh baik MMD dan SMI punya bekal yang cukup. MMD memiliki keuntungan karena masih in charge di jabatan publik berpengaruh sehingga masih mungkin untuk terus-menerus menghangatkan wacana politik nasional dan mendapat porsi pemberitaan besar di media massa. Ini nilai plus bagi popularitas dan elektabilitasnya. SMI mungkin belum bisa memeriahkan wacana tersebut sebelum kembali ke Indonesia, sekalipun upaya untuk menaikkan popularitas dan elektabilitas tidak macet sama sekali.

Tetapi harus diingat juga, ketika membuat kendaraan politik atau parpol baru, apakah pendukung konkret MMD-SMI benar-benar ada (atau hanya simpatisan dari massa mengambang)? Dan mereka yang ingin menggerakkan dari tataran politik praktis ini datang dari kalagan mana? Adakah cukup stok orang-orang partisan berpengalaman yang bisa diharapkan membentuk organisasi politik yang kuat, mampu bergerak cepat, jago melobi kanan-kiri untuk membesarkan partai, atau hal-hal strategis lainnya?

Kalau kita lihat mereka para tokoh yang selama ini berada di belakang SMI misalnya, tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya lihat bukan kampium di politik praktis, tetapi memang semuanya jago sebagai pembuat wacana politik. Tetapi harus diingat, wacana publik bisa besar (menandakan popularitas seseorang), tetapi elektabilitas belum tentu besar. Besar di citra belum tentu besar di suara.

Mari belajar dari gerakan yang dilakukan oleh Sukardi Rinakit dan Salahudin Wahid (Tim Pelangi Perubahan) menggagas pencapresan Sultan HB X pada pilpres 2009 lalu. Dukungan politik sangat rendah, sekalipun Sri Sultan waktu itu memiliki elektabilitas sedikit lebih baik ketimbang JK dan Wiranto. Partai baru yang dibentuk yaitu Partai Republika Nusantara, sama sekali tidak berbunyi dan capres ini sempat dijual ke PDIP walau akhirnya berbenturan dengan kepentingan PDIP sendiri untuk memajukan ketua umunya.

Jadi, bila sekedar membentuk kepengurusan parpol di 33 provinsi itu sih gampang. Syarat pendirian parpol baru sesuai dengan yang ditetapkan oleh RUU Parpol baru itu sih juga gampang. Sebab, dari pemilu ke pemilu toh selalu diikuti oleh puluhan partai baru yang kadang nama parpol maupun pendirinya pun sama sekali tidak pernah kita kenal. Toh mereka bisa, jadi pendukung MMD-SMI pun pasti bisa. Pertanyannya, bagaimana membuat partai baru itu nanti benar-benar dipilih oleh calon pemilih? Bagaimana merebut suara dari konstituen parpol lain atau dari golput yang begitu besar? Bukan perkara gampang bagi mereka yang selama ini hanya bergera di awang-awang (tataran wacana), terlebih bagi mereka yang tidak pernah makan asam garam politik praktis.

Pada pilpres 2014 nanti saya sangat yakin Indonesia akan dimeriahkan oleh satu partai politik baru lagi, yaitu (Partai) Nasional Demokrat. Ormas pimpinan Surya Paloh ini—meski di awal-awal dinyatakan tidak akan dijadikan parpol—saya yakin akan segera diparpolkan. Aktivis Nasdem ini sangat aktif membentuk kepengurusan di berbagai daerah dan seperti sudah diduga, member atau pengurusnya adalah mereka yang saat ini aktif di parpol-parpol besar tetapi jauh-jauh hari ingin mencari sekoci politik di proses pemilu 2013-2014.

Nasdem ini menurut saya pribadi lebih jelas arah dan gerakannya, dan para petingginya juga politisi-politisi kawakan, mayoritas jebolan Golkar dan sebagian lagi masih memasang dua kaki di partai-partai lain. Start mereka juga lebih awal, persis setelah kepengurusan Partai Golkar di bawah Aburizal Bakrie terbentuk sehingga ruang gerak mereka untuk menancapkan akarnya di masyarakat lebih leluasa.

Nah buat pendukung MMD-SMI atau masing-masing secara terpisah, tampakya perlu belajar dari Partai Demokrat dan Nasdem. Atau boleh juga belajar dari kegagalan Hanura dan Gerindra untuk mendapatkan suara signifikan sebagai parpol baru sekalipun level promosinya sudah sebegitu gencarnya.

Walau begitu, dengan tulisan ini saya tidak bermaksud mengecilkan arti pembentukan partai baru bagi pendukung MMD-SMI. Sebab, ini salah satu pilihan yang bisa saja dilakukan secara simultan dengan strategi meningkatkan popularitas dan elektabilitas. Sebab parpol baru, jika berhasil dibentuk, kehadirannya juga sangat mungkin untuk menaikkan daya tawar dengan parpol-parpol lain sebagai calon mitra koalisi nanti.[tj]

*Baca juga diskusi menariK tentang kendaraan politik MMD-SMI pada 2014.

**Gagasan menaikkan popularitas dan elektabilitas MMD-SMI.

About MAHFUD MD - SRI MULYANI FOR 2014

Menggagas Duet Mahfud MD dan Sri Mulyani Indrawati pada Pilpres 2014
This entry was posted in Gagasan Strategis, Wahana Politik Pilpres 2014. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s