Sri Mulyani: (Tanpa) Kepastian Hukum, Menyuburkan Kolusi

Sri Mulyani: Kita harus tetap mempunyai kejernihan dalam melihat permasalahan, lebih besar daripada sekadar menghilangkan rasa sakit. Ia termasuk pakar ekonomi yang kini sedang populer, laris diwawancarai oleh media cetak maupun elektronik. Bicaranya tangkas, terus-terang, dan argumentatif. Soal reformasi Dana Moneter Internasional (IMF), katanya, ia ingin lebih daripada itu.

KATA sebagian pemirsa, telah muncul bintang baru televisi. Tapi bukan dalam sinetron, melainkan dalam acara diskusi atau temu wicara. Ia bernama Sri Mulyani Indrawati, doktor ekonomi kelahiran Tanjungkarang, Lampung, 36 tahun yang lalu.

Benar; lihat saja penampilan pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) ini bersama Emil Salim, Frans Seda, Peter Gontha, dan Ekky Syahruddin dalam diskusi dua pekan lalu di SCTV. Suara ibu tiga anak ini begitu nyaring dan jelas–bukan saja jelas artikulasinya, tapi terutama jelas jalan pikiran dan argumentasinya. Dalam diskusi tentang sistem dewan mata uang (currency board system=CBS) itu pun, ia tak kalah kerasnya mengkritik CBS dibanding suara Peter Gontha pembela CBS–tapi di akhir diskusi Gontha mengusulkan pemerintah menjalankan reformasi IMF 100 persen dengan konsisten dan konsekuen.

Seolah ada kontradiksi dalam diri Sri Mulyani, putri pasangan Prof. Drs. Satmoko dan Prof. Dr. Retno Sriningsih (guru besar Universitas Diponegoro, Semarang). Ia mengaku tak begitu peduli terhadap uang, tapi ilmu yang ia pelajari berkaitan dengan uang. Doktor lulusan University of Illinois, AS, ini sejak lama ingin mengabdikan diri pada dunia pendidikan.

Untuk itu praktis ia tak punya halangan. Suaminya, Tony Sumartono, pegawai di Dewan Penunjang Ekspor, lembaga yang berada di Departemen Perindustrian dan Perdagangan, sepenuhnya mendukung ambisi istrinya.

Berikut wawancara wartawan D&R Seno Joko Suyono, dengan Wakil Kepala Bidang Penelitian Lembaga Pengembangan Ekonomi dan Manajemen UI, di kantor lembaga tersebut, di kampus UI Salemba, sehabis unjuk rasa alumni dan mahasiswa UI, pekan lalu.

Menurut Anda, krisis ekonomi kita dikarenakan kebijakan pada level mikro selama ini tidak jalan. Bisa diceritakan lebih lanjut?

Begini, bottle neck perekonomian Indonesia menurut saya terletak pada strukturnya sendiri. Perekonomian itu kan disusun dari sektor mikro–dari pasar-pasar yang tidak tersusun satu sama lain, kemudian disatukonsepkan. Secara makro, kinerja Orde Baru selama ini tergolong bagus. Pertumbuhannya cukup tinggi, stabilitasnya baik. Tapi, semua itu saya lihat dilakukan dengan melakukan kompensasi berbagai kekurangan-kekurangan mikro yang ada. Kebijaksanaan makro selama ini terlihat mampu mengabsorbsi semua distorsi, semua syok yang muncul, misalnya dalam kebijakan fiskal, exchange rate.

Ternyata ini punya dampak. Krisis ini membuktikan, Indonesia selama 30 tahun sama sekali belum membangun suatu fundamental mikroekonomi yang betul-betul dibutuhkan bagi suatu perekonomian modern. Mengapa dapat terjadi demikian? Indonesia sebuah negara besar, kaya dengan segala sumber daya alam, dan memiliki lokasi strategis. Hal-hal tersebut tak dapat dimungkiri merupakan aset untuk tumbuh. Dengan berada di tengah lingkungan negara yang begitu dinamis, saya melihat Indonesia ini dengan suatu minimum stability saja pasti perekonomiannya bisa tumbuh.

Karena itu, masyarakat dunia percaya pada kawasan ini. Percaya pada prospek negara ini. Bagi mereka, Indonesia itu memiliki minimum stability requirement. Minimum stability ini memberikan semacam ketenangan pada diri mereka sehingga mereka menganggap berbisnis di sini oke. Periode tahun 1990-an misalnya, gelombang penanaman modal asing begitu tinggi.

Itu yang menyebabkan sedikit banyak kita agak terlena. Segala distorsi, kebocoran, dan ketidakberjalanan di level mikro akhirnya bisa dikonsensus. Dalam kondisi booming segala kekurangan itu seolah-olah menjadi tidak relevan dibahas. Itulah yang terjadi selama ini. Dan kini, minimum stability itu tidak ada lagi. Selama ini kita berdiri di atas suatu fundamental yang amat tipis dalam bentuk stabilitas semu karena ditopang oleh pilar-pilar yang sifatnya sangat tidak mengakar.

Kalau kita menggunakan analogi produksi, di makro input kita memang meningkat tinggi. Tapi, kita tidak mempermasalahkan apakah proses produksinya bagus, apakah output-nya sepadan dengan input yang masuk. Secara makro, agregat total pertumbuhan kita kenyataannya lebih banyak input daripada efisiensi atau produk. Sikap birokrasi dalam menghadapi mekanisme pasar sendiri tampaknya sama sekali belum mengalami perubahan. Mereka masih sangat berposisi status quo dalam menghadapi fenomena distorsi mikro ini.

Menurut Anda, stabilitas politik akhirnya bukan jaminan untuk pertumbuhan ekonomi?

Saya baru dapat satu kata yang sangat bagus dari seorang pelaku pasar. Indonesia ini, katanya, bukan suatu land of hope tapi land of possibility. Kata possibility tersebut menunjukkan bahwa negara ini bisa dibawa ke arah mana saja. Atau, singkatnya itu menunjukkan ketidakpastian. Segala sesuatu bisa terjadi di sini, termasuk yang kontradiktif sama sekali. Nah, menurut saya, itu bisa tercipta karena di sini ada suatu degree of power yang terlalu besar. Di sini ada suatu kekuatan untuk menuju ke arah mana saja yang dikehendaki.

Menurut Anda, CBS bukan obat yang mujarab untuk menyembuhkan krisis sekarang ini….

Saya selalu ingin bertanya kembali apa artinya obat. Definisi penyembuhan itu bisa berbeda-beda. Dalam krisis ini, kalangan bisnis, misalnya, mengartikan sembuh itu bila sekarang juga orang kembali bisnis as usual. Buat mereka sekarang juga harus ada kestabilan kurs. Tidak peduli apakah penyakit yang kita derita sekarang kanker atau lever, yang paling penting kurs stabil dan melakukan bisnis kembali.

Menurut saya, penyembuhan model kalangan bisnis itu ibarat orang dalam kondisi sakit sekali, tanpa peduli ia tengah mengandung atau apa, demi menghilangkan rasa sakit, lantas ia menggunakan narkotik. Menurut saya, langkah itu langkah desperation, keputusasaan.

Ekonom mencoba mendudukkan dalam proporsi sebenarnya akar permasalahan krisis ini. Kami mencoba secara telaten menciptakan pengobatan sehingga si pasien mempunyai harapan hidup selama seratus tahun lagi. Tidak hanya sekadar hilang sakitnya dalam satu minggu, kemudian ia bisa main golf. Negara ini berhak hidup seratus tahun lagi. Penyembuhan untuk perjalanan ke depan inilah yang kita siapkan.

Tapi, bagaimana jangka panjang bisa diselesaikan, sedangkan jangka pendeknya saja belum? Misalnya soal kurs tadi?

Begini, kita harus tetap mempunyai kejernihan dalam melihat permasalahan, lebih besar daripada sekadar menghilangkan rasa sakit. Tidak ada pretensi saya bahwa saya tahu betul solusi yang paling tepat untuk masalah ini. Tapi, kalau Anda menanyakan kepada saya, menurut saya dalam kondisi emergency seperti sekarang, ada tiga masalah utama.

Pertama, masalah bahan pokok dan obat yang naiknya sampai tiga kali lipat. Kedua, lumpuhnya lembaga keuangan. Ketiga, macetnya kontinuitas proses produksi karena tidak ada bahan baku. Kita batasi saja masalahnya pada tiga hal ini. Menurut saya, problem kita adalah tiga hal itu. Jangan kemudian melebar pada persoalan apakah bisnis saya bisa jalan atau tidak. Proyek saya bisa jalan atau tidak. Kita konsentrasi pada tiga hal itu.

Untuk itu, tak bisa dihindari, kita butuh dukungan dari negara partner dagang utama, terutama untuk kontinuitas produksi. Lembaga keuangan kita sekarang ini tidak mendapat kepercayaan yang cukup baik dari klien luar negeri. Dukungan dari negara-negara partner dagang utama akan menyelesaikan dua masalah sekaligus: bahan baku dan masalah kinerja dari lembaga keuangan. Dan itu pasti butuh waktu. Saya tidak percaya itu bisa diselesaikan dalam waktu yang pendek. Bahan makanan juga sama.

Jadi, saya mengibaratkan negara ini betul-betul dalam kondisi musibah, bukan lagi dalam kondisi krisis. Oleh karena itu, penanggulangannya harus pada masalah yang benar-benar dasar. Orang yang tertimpa musibah itu tidak perlu berdandan. Nah, oleh karena itu, pemerintah sebagai decision maker dan leader yang penting dalam proses ini harus punya satu kesatuan. Menteri kesehatan, menteri pangan, dan menteri perindustrian, tiga pendekar yang berhubungan langsung dengan menteri keuangan harus terus berkoordinasi. Menurut saya, pemerintah harus betul-betul memfokuskan kepada how to generate tiga masalah ini. Masalah yang lain, ya, setop dululah. Harus ada prioritas. Harus selektif. Tidak bisa semuanya dilakukan saat ini. Tapi, untuk menuju ke situ saja, saya lihat sekarang ini belum ada kesepakatan. Karena, semua orang pasti punya kepentingan minta bagian untuk kelompoknya untuk bertahan dalam situasi ini.

Bisakah Anda menjelaskan bagaimana CBS banyak mengandung kelemahan dalam jangka panjangnya?

Banyak orang mengatakan stabilisasi kurs pada level Rp 5.000 per satu dolar adalah suatu lubang penyelamatan terhadap seluruh krisis ini. Paling tidak itu yang dikatakan Ekky Syahruddin dan Sugeng Saryadi. Saya tidak mengatakan bahwa itu tidak penting. Jelas itu penting. Kestabilan kurs adalah suatu keharusan. Tetapi, jangan kemudian kita seperti Doraemon membuat suatu lingkaran, lalu kita masuk ke dunia fantasi. CBS itu saya lihat seperti pintu ajaib yang tidak memberikan kebahagiaan kepada seluruh masyarakat Indonesia. CBS adalah suatu sistem, yang akan masuk di dalam perekonomian kita. Sebagai suatu sistem, itu pasti akan memberikan suatu implikasi besar. Dia akan mengubah seluruh setting yang ada di negara ini.

Memang, dari sisi stabilitas dan penurunan kurs, tidak ada seorang ekonom pun bisa menandingi solusi CBS. Itu kemenangannya Steve Hanke. Jelas dari sisi marketing ini sangat menarik. Tapi, sebagai seorang ekonom, kita tidak tertarik hanya dengan satu parameter. Karena, kita tahu Indonesia ini 200 juta penduduknya dan perekonomiannya begitu heterogen. Kita tidak bisa dibeli hanya dengan sebuah benda yang hanya memiliki satu feature. Menurut saya, kepastian yang kita inginkan tidak hanya kepastian dalam level kurs. Kepastian bagi saya adalah lebih berarti sebagai sebuah kepastian keberanian, kebulatan bersama untuk melakukan langkah. Kepastian dalam level kurs hanyalah derivasi kepastian dalam level itu. Apakah CBS mampu menjamin kepastian kursnya itu sebagai kepastian yang sustainable?

Buat saya, agenda perekonomian Indonesia tidak hanya sedangkal mengendalikan kurs. Saya tidak terlalu impresif dengan kata-kata Steve Hanke bahwa empat bulan lagi kita akan tenggelam. Dengan CBS, katanya, nantinya ekspektasi masyarakat terhadap dolar turun. Karena, orang akan menjual dolarnya. Dikatakan juga, bila nanti CBS ditopang dengan undang -undang, itu akan memberikan kepastian yang permanen. Tapi, Anda kan tahu sendiri reputasi undang-undang di Indonesia selama ini tidak bisa menjamin banyak. Dari dua sudut itu saja CBS terasa lemah. Belum lagi kalau dihitung cost-nya. Indonesia adalah negara yang struktur ekonominya 60 persen agrikultur atau sektor tradisional. Anda tidak dapat mengharapkan CBS dapat menjadi komplemen yang bagus dalam struktur ekonomi yang masih seperti itu. Karena, CBS itu pintu dengan benda mati. Ia tidak melakukan fungsi apa-apa. Kita membutuhkan sesuatu yang lebih canggih dari CBS.

Steve Hanke menyatakan bahwa CBS mampu menurunkan inflasi….

Steve Hanke berpikir bahwa inflasi itu berasal dari exchange rate dan money supply. Ia tidak pernah melakukan penelitian tentang inflasi di Indonesia. Dia baru dapat assignment dua bulan. Dia belum cukup tahu struktur perekonomian Indonesia. Hanke menganggap, pasar ini adalah hanya pasar nilai tukar uang. Itu salah.

Bagaimana dengan usulan Kwik Kian Gie agar kita kembali kepada fixed exchange rate?

Fixed exchange rate itu akan menghabiskan devisa untuk intervensi. Dengan fixed exchange rate, bank sentral atau CBS berkewajiban untuk defense that rate. Jadi, devisa itu sebagai back up dari seluruh sirkulasi uang. Dia harus disimpan dalam bentuk sekuritas. Jadinya Anda tidak bisa menggunakan itu untuk sektor produktif.

Baik reformasi IMF maupun CBS memerlukan reformasi perbankan. Bagaimana Anda melihat nasib perbankan kita sekarang?

Begini, lembaga keuangan dalam perekonomian modern ini berfungsi sebagai intermediary dari seluruh transaksi. Tanpa lembaga keuangan, seluruh transaksi itu lumpuh, terutama (transaksi) dengan dunia luar. Ibaratnya, Indonesia sudah tidak punya jembatan ke luar negeri lagi. Back up pemerintah dan Departemen Keuangan ternyata tidak cukup kredibel, terutama yang berhubungan dengan transaksi devisa. Karena, tranksasi devisa memerlukan jaminan bahwa kita masih cukup mempunyai cadangan memfasilitasi transaksi.

Lalu apa arti langkah-langkah pemulihan untuk mengembalikan kepercayaan terhadap nasabah?

Itu hanya untuk nasabah domestik. Tapi, investor luar negeri tidak percaya kepada progam itu. Dalam situasi darurat seperti sekarang, satu-satunya cara transaksi bisa dilakukan dengan bank asing. Seorang bankir bertanya kepada saya, apakah ini artinya tamat riwayat kita. “Ya, kurang lebih begitu,” saya jawab. Barangkali korban pertama adalah bank-bank yang tidak bisa eksis. Dengan atau tanpa CBS, sebetulnya korban akan jatuh juga itu. Persoalannya, permintaan transaksi yang paling urgen sekarang adalah untuk memfasilitasi produksi. Dan, itu hanya bisa ditopang oleh lembaga keuangan yang kredibel di mata luar negeri. Dan, saat ini mungkin hanya bank asing yang dipercayai. Atau, satu-dua bank BUMN (badan usaha milik negara) yang mendapat back up Bank Indonesia.

Apakah Bank Indonesia sendiri masih memiliki kredibilitas di luar negeri?

Setidaknya Bank Indonesia lebih baik kredibilitasnya dibanding bank swasta atau BUMN. Tetapi adanya isu CBS, secara sistematis itu menggerogoti kredibilitas Bank Indonesia (BI). Isu itu memposisikan BI sebagai lembaga yang tidak capable atau tidak mempunyai otoritas untuk melakukan transaksi. Pertanyaan-pertanyaan pihak asing tentang kondisi institusi ekonomi di Indonesia ini sifatnya sangat teknis. Katakanlah CBS akan diberlakukan sekarang, mereka bertanya soal bagaimana prosedur transisinya. Kalau CBS baru dilaksanakan enam bulan atau satu tahun lagi, mereka melihat sebaiknya sejak sekarang setop transaksi dengan BI. Mereka akan minta seluruh transaksi dalam jangka pendek; hari ini juga harus dibayar.

Salah satu kritik Kurt Schuler (konseptor CBS) terhadap BI, dalam banyak hal bank sentral ini tak berfungsi sebagai the lender of last resort (pengucur kredit terakhir), tapi justru the lender of first resort, karena banyak dana BI dikucurkan tidak pada saat bank terdesak, dan untuk kepentingan-kepentingan politik….

Saya setuju. BI gagal dalam hal pembinaan bank. Permainannya kan begini. Pemilik bank, siapa saja, tahu bahwa kalau dirinya jatuh, masalahnya bukan hanya dia yang menanggung bebannya, juga seluruh sistem perbankan, dan BI ikut menanggung. Jadi, permainannya sudah tidak simetris. Ibaratnya, begitu Anda mendapat lisensi untuk mendirikan bank, Anda sudah mempunyai kemampuan menawar seluruh sistem itu. Anda mau main-main, yang membayar bukan Anda sendiri. Problem seperti itu yang membuat BI sangat takut: satu bank jatuh, akan menciptakan domino effect.

Tapi ini persepsi. Sebab by methodology bagi saya susah sekali mengatakan efek domino itu eksis atau tidak. Saya sendiri melihat kerentanan itu karena Indonesia kan baru mengenal institusi perbankan belum lebih dari 10 tahun. Dari sisi kemampuan masyarakat menerima institusi itu dalam kehidupan sehari-hari, belum lama. Jadi, buat masyarakat Indonesia, pengalaman traumatis akibat kegagalan perbankan belum ada.

Maka, menjaga kredibililitas seluruh lembaga keuangan menjadi prioritas pertama BI. Sementara itu, bankir koboi yang kemudian bisa melaksanakan bakat-bakat koboinya itu bisa tanpa satu punishment yang jelas. Menurut saya, inilah yang harus dikoreksi tanpa harus membunuh bank sentralnya sendiri. Karena, bank sentral mempunyai fungsi-fungsi lain yang terbukti juga cukup baik.

Bagaimana Anda menilai 50 paket reformasi IMF?

IMF itu menginginkan, pemerintah dan industri diliberalisasi. Saya concern dengan keinginan itu, karena memang agenda itu yang tertinggal di sini. Tapi, kalau IMF percaya bahwa adanya kompetisi antara perusahaan domestik dan perusahaan asing akan memunculkan suatu efisiensi dan kemudian terjadi suatu mekanisme pasar yang baik, saya tidak percaya. Menurut saya, bila dalam masyarakat belum ada kepastian hukum yang melindungi hak-hak konsumen, akan menyuburkan kolusi. Di saat reformasi tanpa ada kepastian hukum, hati-hati terhadap munculnya oligopoli internasional. Apa Anda pikir investor asing itu berhati malaikat? Buat mereka profit adalah segalanya. Maka, kalau dibutuhkan kolusi, itu akan dilakukan. Dan (bila itu terjadi) kondisinya akan balik seperti sekarang ini.

Jadi harus ada kepastian hukum lebih dahulu untuk menjalankan program IMF?

Ya. Orang Indonesia sudah lama tidak diberi kesempatan menjadi dewasa. Pemerintah menempatkan diri sebagai godfather. Pemerintah juga tidak memberi sistem kerangka informasi yang bagus kepada masyarakat. Rakyat hanya disuruh menanggung risiko, tanpa diberi informasi mengenai penanggulangan risiko yang komplet. Akibatnya masyarakat tidak memiliki sistem alarm.

Harus ada total reform di situ. Pemerintah harus mampu memberikan informasi yang komplet. Rakyat itu bisa melindungi dirinya sendiri, kalau mereka diberi kemampuan melindungi dan diberi informasi yang cukup. Memasuki abad ke-21, kita ini memasuki perang ekonomi seperti dikatakan Fuad Bawazir. Dan perang ekonomi itu ada dalam perekonomian kita sendiri, bukan di pasar dunia. Kita tidak bisa membikin barrier lagi. Tarif hilang, kuota harus hilang, dan pemain asing masuk. Dalam kondisi demikian, sistem pertahanan terakhir adalah rakyat. Jadi, harus ada kepastian hukum yang melindungi rakyat.

Tapi, kalau rakyat terbiasa diproteksi dalam melakukan pilihan, mereka tidak akan bisa membedakan ini perusahaan koboi atau bukan. Mereka juga tidak terbiasa kritis. Mereka tidak menyadari hak-haknya sebagai konsumen. Selama ini hak-hak konsumen tidak dihargai. Bila Anda masuk ke supermarket tentu ada tulisan : “Barang pecah harus diganti, setelah membeli tidak boleh diganti lagi.” Itu menumpulkan kemampuan rakyat untuk memiliki ketahanan diri. Mereka dibiasakan inferior sekali di depan perusahaan.

Kalau dalam liberalisasi nanti perusahaan asing muncul di depan pintu, kita sudah merasa kalah. Selama ini produsen sangat dominan, rakyat tidak diberi kemampuan melawan atau paling tidak meminta haknya untuk dihormati atau dijamin hukum. Kalau rakyat diberi kepastian hukum, rakyat tentu bisa mendikte perusahaan sesuai dengan keinginan rakyat. Di situlah esensi perang ekonomi, bukan soal subsitusi impor, menghilangkan ketergantungan. Ketergantungan itu tetap ada, wong, namanya network.

Itu soalnya maka Anda mengatakan dari 50 butir reformasi itu ada beberapa yang seharusnya tidak kita sepakati.

Betul; dalam arti kita punya negosiasi waktu. Karena, sebelum kita menyepakati ini tanpa melakukan yang saya katakan tadi, nonsens. Anda mengharapkan suatu efisiensi pasar yang akan menciptakan suatu pareto optimal untuk masyarakat (bila ada yang untung, pasti ada yang rugi, red). Saya sangat khawatir bahwa konsumen tidak cukup memiliki kemampuan menghadapi era itu. Masyarakat harus diberi kesempatan untuk menjadi dewasa lebih dahulu. Pemerintah jangan lagi merassa lebih tahu mengenai rakyat ketimbang rakyat sendiri–rakyat bisa menentukan pilihannya sendiri.

Menurut Anda, seberapa jauh Indonesia sudah melaksanakan 50 reformasi itu?

Ya. saya khawatir mengenai hal itu. Ibarat nasabah bank yang menandatangani akad kredit. Terus mencairkan termin pertama, termin kedua. Pada saat pencairan itu sebenarnya power-nya sudah berpindah dari yang prinsipiil ke agen. Nah, sebagai agen, Indonesia ini bisa main-main. Saya pikir banyak kasus seperti itu di sini. Itu yang menyebabkan bank kredit macetnya tidak pernah tuntas, malah naik terus. Karena yang disebut everlasting credit itu terjadi terus. Maka, itu keinginan untuk berubah pressure-nya seharusnya dari kita sendiri. Buat saya, IMF sekadar katalisator. Seluruh gerakan ini harusnya merupakan kesadaran kita sendiri untuk melakukan pembaharuan.

Penyembuhan krisis kini butuh berapa lama?

Kalau definisi penyembuhan itu kita kembali tumbuh dari tiga persen, naik ke lima persen, enam persen–walau tidak akan sampai naik tujuh persen, saya hampir yakin kita butuh waktu kurang lebih dua tahun saja. Ini dengan catatan, pemerintah cooperate dengan IMF dan G-7 melakukan sinergi kebijaksanaan. Hingga masalah produksi yang enam bulan macet dapat diselesaikan, letter of credit (L/C) mulai cair lagi, bank mulai menaikkan modal dan mulai mengadakan restruturisasi, nilai tukar rupiah dengan dolar secara bertahap mulai turun, dan kepercayaan luar negeri mulai masuk. Tapi, agak naif kalau kita ingin itu terjadi dalam tahun ini.

Ada yang bilang pemulihan kredibilitas ekonomi Indonesia sangat tergantung figur Pak Harto….

Tentu saja masalah kredibilitas Indonesia tidak bisa dilepaskan dari personifikasi Pak Harto. Selama 30 tahun memimpin, saya lihat Pak Harto mempunyai kemampuan untuk berubah at the last moment. Pak Harto selalu dapat memutuskan pilihan yang sulit di dalam posisi yang sangat terbatas. Saya termasuk yang masih mempercayai bahwa kemampuan Pak Harto itu tidak dimiliki oleh semua orang. Dan itu adalah suatu aset yang tidak bisa diabaikan pada saat ini.

Yang paling penting, Pak Harto harus diyakinkan hingga memiliki sense of constraint, keterbatasan. Kalau Bill Clinton sudah telepon beberapa kali, suatu sense of constraint sebenarnya sudah diberikan kepada Pak Harto. Yang bisa memunculkan sense of constraint kepada Pak Harto mestinya rakyatnya sendiri. Dan Pak Harto selalu mengatakan kita harus konstitusional. Itu berarti, sense of constraint itu hanya bisa didesakkan oleh kita semua yang masih sangat articulate. Karena itu, ilmuwan harus menjalankan fungsi kecendekiaannya sebagai pengamat yang jujur. Moga-moga DPR juga memiliki spirit seperti itu. Dan mungkin yang paling strategis adalah berbicara dengan putra-putranya. Sedikit banyak kredibilitas Pak Harto sangat dipengaruhi oleh yang dilakukan keluarganya.Barangkali putra-putranya yang tidak sadar mengenai sense of constraint itu.

Anda mengatakan bahwa kemampuan Pak Harto yang bisa bertindak dalam posisi yang terbatas sebagai suatu aset. Apa ini justru bukan kelemahan yang menunjukkan kita tergantung pada seseorang?

Begini. Dalam posisi krisis seperti sekarang ini saya masih percaya kepada leadership dan kemampuan mengontrol itu penting sekali. Saya lebih melihat kepada sesuatu yang lebih konstruktif, di mana kita tidak kehilangan banyak hal, tapi kita menyusun struktur yang jauh lebih kuat ke depan. Saya termasuk yang secara obyektif mengatakan negara ini mempunyai banyak hal yang dipertaruhkan. Oleh karena itu, saya tidak termasuk mereka yang memiliki keyakinan bahwa perubahan yang sangat radikal akan memberikan biaya terkecil. Bahwa untuk mencapai tujuan reformasi ekonomi harus diadakan reformasi politik, saya selalu mengatakan: yes. Tapi, saya lebih percaya perubahan yang gradual. Berapa lama perubahan itu? Trade off masalahnya. Apakah kita menunnggu lima tahun lagi, 10 tahun lagi? Itu masalah preferensi waktu dan preferensi biaya perubahan. Jadi, trade off menurut saya juga merupakan pengorbanan dari suatu perubahan. Tapi, pengorbanan yang cost-nya jauh lebih kecil daripada radical movement. Barangkali karena saya ibu tiga anak. Saya bukan seorang risk seeker. Banyak manusia Indonesia seperti itu, Anda tak bisa menolaknya.

Jadi, menurut persepsi Anda apa sebenarnya reformasi politik itu?

Menurut saya reformasi juga berarti berubahnya cara, sikap, atau filosofi pemerintah melayani masyarakat. Ini akan mengubah sama sekali struktur birokrasi. Perubahan cara dan sikap akan menghasilkan suatu misi yang berbeda dengan sebelumnya. Yang ditembak oleh IMF adalah persoalan monopoli dan sebagainya. Saya lebih jauh dari itu. Itu hanya diperlukan, tapi tidak cukup.

(Majalah D&R, 07 Maret 1998)

About MAHFUD MD - SRI MULYANI FOR 2014

Menggagas Duet Mahfud MD dan Sri Mulyani Indrawati pada Pilpres 2014
This entry was posted in Wawancara Sri Mulyani. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s