Selamat, Gayus Lumbun & Nasir Djamil Mendapat Mencla-mencle Award!

http://mahfudsrimlyani.wordpress.com/

Mereka memang sangat layak menerima Mencla-Mencle Award

Mencla-mencle adalah sebutan dalam bahasa Jawa yang artinya berubah-ubah, tidak konsisten, pagi bicara A sore bicara Z, atau kita kenal dengan istilah lain yaitu plin-plan. Mencla-mencle juga sering dialamatkan kepada orang yang mudah sekali berganti sikap untuk menutupi kebohongan dan kepentinganya.

Dengan kata lain, orang yang disebut mencla-mencle pastinya adalah orang yang tidak layak dipercaya omongannya, dan oleh karena ketidakkonsistenannya itu, apapun yang mereka omongkan haruslah “didiskon” kadar kebenarannya. Dan betul bahwa orang yang disebut mencla-mencle pasti juga dianggap tidak memiliki kredibilitas dan integritas. Itu sudah seperti satu paket.

Pertanyaannya, kenapa Gayus Lumbun (anggota DPR dan politisi senior PDIP) dan Nasir Djamil (anggota DPR dari PKS) layak disebut dan dianugerahi MENCLA-MENCLE AWARD? Singkat ceritanya, kedua politisi yang wilayah geraknya di Komisi III DPR ini menolak kehadiran dua komisioner KPK Chandra Hamzah & Bibit Samat Rianto dengan alasan status keduanya adalah tersangka. Keduanya politisi ini menolak langkah Kejaksaa Agung yang men-depoonering kasus Chandra-Bibit yang kita tahu semua merupakan rekayasa penyidik waktu itu. Dengan alasan itu, keduanya menolak kehadiran Chandra-Bibit dalam rapat kerja antara KPK dengan Komisi III DPR.

“Deponeering adalah mengesampingkan penyidikan tapi tidak menghapus status tersangka. Pak Bibit dan Pak Chandra hanya dikesampingkan penuntutannya. Oleh karena itu mari kita forumkan kelayakan kedatangan mereka berdua,” kata Gayus (Detik.com, 31/1/2011).

Sementara, Nasir mempertimbangkan alasan moralitas. Menurutnya, tidak sepatutnya seorang tersangka ikut rapat dengan lembaga negara. “Deponeering itu membuat orang tidak jelas,” tandasnya (Detik.com, 31/1/2011).

Yang jadi soal dan membuat kita gusar adalah fakta bahwa kedua politisi ini sebelumnya tegas-tegas mendesak dan bahkan menuntut supaya Kejaksaan Agung waktu itu segera ambil langkah depoonering (note: terima kasih saya pribadi kepada Detik.com yang mencatat semua pernyataan politisi tersebut).

Gayus, sebagaimana dikutip Detik.com, tiga bulan sebelumnya tanggal 11 Oktober 2010, menyatakan “Agar KPK tidak lemah, pemerintah harusnya mengangkat Jaksa Agung yang definitif, lalu berikan deponering. Jadi hal seperti ini yang seringkali diabaikan.”

Sementara Nasir, sebagaimana dikutip Detik.com, tujuh bulan sebelumnya tepatnya tanggal 3 Juni 2010, menyatakan, “Memang kalau saya dari dulu kepinginnya deponeering. Kalau waktu itu jaksa sungguh-sungguh harusnya jaksa mendeponeering kasus ini.”

Bagaimana kita selayaknya membaca fenomena politisi senayan ini? Mudah tampaknya, karena sikap plin-plan alias mencla-mencle dari para anggota dewan yang terhormat itu muncul akibat dendam politik. Khusus dari sisi politisi PDIP, jelas mereka gusar karena kolega mereka ada 14 yang baru saja ditahan oleh KPK akibat tersangkut kasus cek pelawat pemilihan deputi gubernur BI. Sementara PKS, bukan barang baru pula kalau sejumlah politisinya sempat sangat gerah dengan KPK karena menilai KPK lamban dalam menangani kasus Century. Di sisi lain, politisi PKS yaitu M Misbakhun (inisiator Pansus Century) justru yang sudah lebih dulu disikat oleh Kejagung karena tersangkut LC fiktif Bank Century (sudah divonis penjara 1 tahun dan denda 10 miliar).

Dari catatan tersebut saya berkesimpulan, ternyata DPR yang seharusnya menjadi ajang memperjuangkan kepentingan rakyat ternyata justru hanya menjadi panggung akrobat politik dari para politisi busuk. Mereka berteriak keras jika itu menyangkut kepentingan sendiri dan kelompoknya, mereka tidak ada habisnya mempolitisi setiap kebijakan pemerintah, tetapi sering yang kita dapati berikutnya adalah adanya vested interest pada setiap move politik mereka.

Layakkah kita diam? Menurut saya, kita harus tetap berpegang pada akal sehat dan hati nurani. Dan apabila melihat peristiwa seperti ini, kita tidak perlu ragu mempertanyakan sikap-sikap para politisi tersebut. Dan karena mereka memang terbukti dengan sah sebagai politisi yang plin-plan alias tidak berintegritas, maka layaklah Januari 2011 ini Gayus & Nasir kita anugerahi Mencla-Mencle Award.  Siapa saja yang berperilaku seperti itu, kita layak berikan awardnya. Selamat![tj]

* Baca artikel sejenis utk tokoh yg juga diragukan integritasnya & layak diberi MM Award: “Ketika Buyung Lebih Gayus daripada Gayus

** Mari gabung di grup facebook: “MENCLA-MENCLE AWARD

About MAHFUD MD - SRI MULYANI FOR 2014

Menggagas Duet Mahfud MD dan Sri Mulyani Indrawati pada Pilpres 2014
This entry was posted in Opini Blog. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s