Sri Mulyani Indrawati: Reformasi Tidak Setengah Hati

sri mulyani calon presiden 2014

Sri Mulyani: ”Saya menganggap, saya diangkat bukan karena perempuan”

Di kalangan kabinet persatuan, boleh dibilang nama Sri Mulyani Indrawati cukup menonjol. Selain memegang jabatan cukup menantang sebagai Menteri Keuangan –di mana ia harus mengelola anggaran negara sebanyak Rp.750 trilyun, berhubungan dengan para wajib pajak, eksportir, importir, pelaku bursa saham hingga semua instansi pemerintah—ia juga sedang melakukan reformasi besar-besaran di lingkungan departemennya. Di tengah memburuknya reputasi departemen yang dipimpin, Anik—nama akrabnya– ingin mengembalikan fungsi birokrasi dalam arti yang sesungguhnya sebagai pelayan masyarakat.

Ekonom Moh. Chatib Basri mengomentari seniornya itu sebagai salah satu menteri yang memiliki performa dan kinerja terbaik. ”Saya kira berkaitan dengan karakter Anik yang tegas, perfeksionis, dia pasti akan tegas melakukannya. Dia itu tipe orang yang kalau punya obsesi dan target tidak gampang menyerah,” Chatib menampakkan optimismenya. Dan memang inilah yang diharapkan. Dalam dua tahun terakhir bisa dibilang kerja besar yang dilakukannya telah memberikan sinyal yang lebih baik, lepas itu belum sampai pada target yang diraih: ”menjadikan depkeu selalu setia menjada kepentingan negara Indonesia di tengah globalisasi, dipercaya dan dibanggakan rakyat Indonesia.”

Dia ternyata tak hanya jago kandang. Di berbagai forum perekonomian internasional, doktor ekonomi lulusan University of Illinois Urbana-Champaign, Amerika Serikat ini selalu tampil percaya diri dan cerdas mengkritisi berbagai kebijakan perekonomian dunia. Tak heran bila ia pernah dinobatkan sebagai Menteri Keuangan terbaik se-Asia versi Emerging Market—sebuah harian bisnis terkemuka di London serta The Finance Minister of The Year in The World 2006 versi Euromoney . Di tengah situasi bangsa yang sudah lama tak memberi prestasi internasional, jelas penghargaan ini sungguh berarti. Ahmed S. Hariri, Direktur Regional Islamic Development Bank (IDB) memuji, ”She is articulate professional, smart and can bring good change to ministry.” Sebagai catatan, Anik adalah gubernur IDB untuk Indonesia.

Barangkali pujian itu tak berlebihan. Pencapaian posisinya saat ini merupakan hasil kerja keras yang telah dimulai puluhan tahun lalu. Mantan dosen dan Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) ini pernah masuk ke jajaran kekuasaan melalui Dewan Ekonomi Nasional (DEN) semasa Presiden Abdurrahman Wahid. Posisinya menguat saat dia diangkat menjadi Direktur Eksekutif IMF mewakili 12 negara Asia Tenggara yang berpusat di Washington. Ia kembali ke Indonesia ketika diminta Presiden SBY menjadi Menteri Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas sebelum menjadi Menkeu saat ini.

Pengalaman bekerja di berbagai institusi yang berlainan jelas memberikan kontribusi besar pada dirinya. Ia jauh lebih mudah beradaptasi terhadap lingkungan yang dimasukinya. “Kalau penyesuaian dipikirkan malah membuat kita bingung, sebaiknya kita biarkan mengalir saja,”ujarnya. Apalagi pekerjaan ini masih sama dengan bidang yang sangat dicintainya. ”Saat di akademis, saya menulis dan mengamati pemerintah. Saat duduk di pemerintahan, saya mengamati kualitas menteri dan birokrasi. Nah, karena menteri hingga gubernur bank sentral saya kenal, jelas dari sisi personal mereka bukan ”strange person” buat saya,”ungkap wanita kelahiran Tanjung Karang, 26 Agustus 1962.

Yang dipikirkannya hanyalah bagaimana memimpin institusi besar yang beranggotakan lebih dari 66 ribu orang yang tersebar di seluruh Indonesia. ”Karena ini sebuah amanah, ya, saya jelaskan saja pada seluruh pegawai. Presiden mengatakan ini…UU mengatakan ini…yuk kita jalankan bersama-sama…,”katanya yang terasa lebih mirip seperti ajakan seorang ibu terhadap anaknya. ”Saya menganggap pekerjaan di depkeu sangat berat dan sangat penting karena sangat menentukan bagaimana negara ini memajukan dirinya. Tidak ada pilihan lain selain bekerja sama.” tukasnya. Dengan gaya kepemimpinan ini, dia merasa tak ada kendala yang berarti. ”Selama ini, so far, so good.”

Sejak awal dia berusaha untuk membangun suasana kekeluargaan di dalam institusinya. Ini berarti dia harus merangkul beragam dirjen (direktorat jendral) yang selama ini berdiri sendiri. ”Memang ada penyesuaian pada awalnya. Tetapi setelah mereka melihat lebih banyak keuntungannya, akhirnya banyak yang mau. Keputusan juga akan lebih bagus bila informasinya bisa dibagi, sehingga bisa dapat masukan lebih baik,” ia membuka rahasia. Apalagi mereka juga memahami betapa tidak mudahnya menjadi pejabat belakangan ini. ”Jangankan keputusan, ngomong salah saja sudah dimarahi seluruh masyarakat. Karena itu harus selaku dikondisikan.”

Dia menganggap bahwa pertemuan dan diskusi dalam tim adalah salah satu hal yang sangat penting. Harapannya: tidak ada dominasi, memupuk rasa saling percaya, dan menjadi bagian dari sebuah keluarga sebagai tanggung jawab dari manusia publik.”Bisa saja kita dititipi interest karena kita semua juga bergaul, gak papa, saya juga tidak mengatakan bahwa kita harus jadi manusia terisolasi. Tapi kalau ada interest bilang saja, bu ini ada proposal seperti ini, background-nya seperti ini, ya kita akan lihat. Kalau memang propoal itu sesuai dengan kebijakan publik, baik dan mengikuti rambu-rambu peraturan, kita masih bisa olah seperti normalnya. Yang penting keterusterangan,” ungkapnya sembari menegasnya pentingnya sebuah environment.

Beban dan kekhawatiran pasti ada. ”Tapi saya menganggap bahwa yang dilakukan adalah amanat publik. Saya mencoba mempelajari dengan rasional dan perasaan,” tukasnya. Rasional artinya berpikir jernih tentang kebijakan yang dilakukannya, lalu dengan hati, ia bertanya apakah ia mengkhianati kepercayaan publik. ”Saya pikir, apakah saya akan bisa menyenangkan setiap orang pasti tidak. Kalau kita mikirnya start-nya dari bagaimana membuat semua orang happy ya pasti akan repot. Saya justru kadang harus membuat orang tidak happy, termasuk bawahan saya, supaya mereka tahu bahwa ada hal yang belum pas.”

Sebagai ekonom, dia bukan seorang penganut ideologi tertentu. ”Saya rasa cita-cita saya pada kemanusiaan. Ekonomi adalah ilmu yang untuk memperbaiki bagaimana manusia menggunakan keterbatasannya, dayanya, untuk memperbaiki kualitas,” tukasnya. Tapi ia mengakui kekagumannya pada metodologi yang dilakukan oleh para tokoh itu untuk mereduksi atau membuat masalah lebih mudah untuk dilihat. Lalu muncullah nama Lucas, seorang ahli matematika dari universitas Chicago, Milton Friedman untuk ekonomi klasik, John Maynard Keynes, serta Irma Adelman. Sebagai catatan, saat ini dia tengah membaca buku Pijar-Pijar Filsafat (Franz Magnis Suseno), Puteri China (Sindhunata). Di mobil dinasnya, ia meletakkan buku postkolonial dan sosiologi yang siap untuk dibacanya kapan pun. Dengan pengetahuan ini tidak heran apabila ia selalu memandang sebuah persoalan secara kompleks dan mendalam.

Tonny Sumartono – suami dan patner diskusi Anik sejak masa kuliah di UI– memberikan gambaran ”Bila seorang pecatur dunia sudah mengantisipasi 7 langkah ke depan, Anik selalu mengantisipasi 4 langkah ke depan. Dia selalu memiliki Plan A, Plan B, yang tidak pernah terpaku pada satu plan.” Dengan kepekaan insting dan kemampuan ”membaca psikologi orang yang dihadapi”, dia selalu tampil percaya diri dan cemerlang di berbagai kesempatan. Tentang ini, ia menanggapi, ”Mungkin karena saya merasa nyaman di bidang ini (ekonomi), jadi tak ada rasa malu untuk menunjukkan kekhasan. Saya nggak pernah mikirin, menikmati saja. Saya pikir ini bukan soal PD atau tidak PD. Tapi, seperti mengerjakan sesuatu yang sangat menyenangkan saja.”

Tak hanya soal ekonomi, mode pun dikuasai. Lihat saja busana polkadot yang dikenakan saat wawancara yang membuatnya terlihat segar di pagi itu. Ketika ditanya apakah memiliki konsultan mode, ia langsung terbahak. ”Pada dasarnya, saya ini suka menjahit,” anak ke-7 dari 10 bersaudara dari sebuah keluarga guru ini memulai ceritanya. Sejak kecil, ia sering melihat mode di majalah Gadis. ”Saya minta uang Ibu untuk membeli kain, lalu saya bikin sendiri,” matanya tampak berbinar-binar, senang. ”Kakak saya kagum..Karena kita bukan dari keluarga kaya, bila saya bisa mengenakan baju baru, mereka nggak bisa membayangkan. Pertama, mereka harus beli, atau dia ke penjahit. Dua-duanya terlalu mahal,” ungkap putri Prof Drs. Satmoko (mantan rektor IKIP PGRI Semarang) dan Prof. Dr. Retno Sriningsih (Ketua Paska Sarjana Universitas Negeri Semarang.)

Hingga kini, dia masih memikirkan sendiri seluruh busana yang dimilikinya. Namun karena sibuk, ia menyerahkan kainnya pada penjahit langganannya –yang tak lain adalah kakak iparnya– untuk membuatkan busana sesuai keinginannya. Karena memiliki daya ingat kuat dan gaya menganalisisnya cepat, maka ketika ia melihat sepintasan majalah atau melewati pertokoan, ia langsung menyerapnya dan membuat busana sesuai keinginannya. ”Kadang, dia menggunting modelnya dari koran mingguan,” cerita Tonny. Bahannya? ”Kalau saya lagi kumat, kayak kemarin, saya pergi sendiri ke pasar Mayestik untuk cari bahan,” Anik terkekeh.

”Saya bukan orang yang suka brand hebat-hebat. I’m just a normal people, lagian gaji menteri nggak tinggi-tinggi amat loh.” Dia lalu menyebut nama Ann Taylor, dengan nada yang kurang nyaman, untuk label jas yang dipilihnya karena memiliki ukuran yang pas. Sementara nama desainer Indonesia yang disebutnya, Ghea Panggabean. ”Saya nggak ada waktu untuk pergi. Waktu sosial saya tereduksi oleh pekerjaan.” Karena itulah ia memanfaatkan waktu luangnya untuk spa di sebuah spa lokal. Sementara kalau di rumah, aktivitas yang paling disukainya treatmil, bernyanyi (karaoke) dan melukis.

Agustus tahun lalu, ia bersama Cak Kandar memamerkan karya-karyanya dalam tema Dua Sisi Mata Uang.”Sebagai pelukis, saya bayangkan saya seperti Affandi, kok rasanya jauh lebih ekspresif. Saya menganggapnya begitu, penuh dengan passion,” tutur Anik yang seandainya jadi penikmat, ia menyukai karya Monet. ”Sekarang saya lagi tertarik untuk belajar palet,” tandasnya. Sebuah isyarat bahwa dia adalah orang yang serius dalam mendalami satu hal.

”Dia dikenal berwibawa dan kadang keluar galaknya sebagai menkeu, tapi di rumah dia menjalankan kewajiban sebagai ibu dan istri dengan sangat baik,” ungkap Tonny yang telah menikahi Anik sejak 20 tahun lalu. “Dia juga memiliki insting tambahan yang berupa kepekaan terhadap keluarga, terutama terhadap anak-anak,” Tonny menjelaskan bagaimana Anik menempelkan tubuhnya ke tubuh anaknya yang panas dengan penuh perasaan dan suhu badan anaknya berangsur-angsur normal. “Ini adalah kebiasaan yang diturunkan dari ibunya. Anik bahkan bisa menebak suhu tubuh anak saya waktu itu,”kisah Tonny. Ketika anaknya kena Demam Berdarah, Anik memilih absen di sebuah rapat kabinet beberapa waktu lalu. ”Anak adalah segala-galanya buat dia,”jelas Tonny.

Dengan sedemikian banyak kesibukan kantor bagaimana ia membagi waktu dengan keluarganya? Dengan taktis Anik menjawab,”Waktu pekerjaan dan keluarga jangan dibagi, nanti bingung, dapat sedikit atau dapat banyak. Yang penting poin-nya jelas. Saya harus ketemu anak saya yang paling kecil sebelum tidur,” ungkap ibu Dewinta Illinia (17), Adwin Haryo Indrawan (14) dan Luqman Indra Pambudi (11). ”Mereka tahu kok, ibunya perlu dicium setiap hari. Kalau tak dicium, ibunya nggak bisa tidur,” tambahnya. Setiap ada acara, khususnya parlemen, dia selalu berpamitan, ”You know, when di parlemen saya nggak bisa memastikan waktu pulang.” Untuk itu, sebelum berangkat ke parlemen, dia selalu pulang dulu untuk memberi ciuman pada anaknya. Sesuatu yang membuatnya selalu gembira dan bergairah!. (Rustika Herlambang)

Fotografer: Indra Leonardi
Make Up: Nuke Galdira

Tentang Anik:

Menjadi ekonom sesungguhnya bukan cita-cita masa kecilnya. Dibesarkan dalam keluarga guru (dosen), sempat terpikirkan untuk menjadi guru taman kanak-kanak. Saat itu, ia—seperti juga kakak-kakaknya yang lain—diminta orang tuanya untuk mengambil pendidikan di jurusan kedokteran atau teknik, satu jurusan yang dianggap memiliki pekerjaan dan status sosial yang jelas, di universitas di sebelah barat, yakni UI atau ITB. “Saya bosan meneruskan fisika, kimia atau biologi. Saya tidak suka kedokteran karena sering melihat kakak saya bawa preparat,” ia mulai mbalelo dengan mengambil jurusan psikologi dan ekonomi sebagai pilihan pertama. “Mungkin karena matematikanya bagus,” tukas

Masuk ekonomi menjadi hal yang menyenangkan juga untuknya. Apalagi saat itu, ada beberapa menteri yang mengajar. Ada hubungannya antara yang dipelajari dengan apa yang sehari-hari tercantum di surat kabar. ”Ekonomi berhubungan langsung dengan masyarakat. Dari sisi ilmunya, ada metodologi, memformulasikan atau melihat masalah dan juga analoginya. Karena pada dasarnya saya suka psikologi, ternyata ilmu ekonomi mengobservasi tentang tingkah laku konsumen, produsen yang memang kemudian diabstrakkan,”ungkapnya.

Di kalangan wartawan, dia dikenal cool dan percaya diri. “Dia adalah menteri yang artikulasinya bagus banget untuk menjelaskan kebijakan perekonomian yang susah dibantahkan. Dia juga sangat profesional dan bisa menjadi ikon bagi sebuah perekonomian di Indonesia,” Wahyu Muryadi, mantan juru bicara presiden era Gus Dur yang juga menjabat sebagai redaktur eksekutif majalah Tempo mengomentari.

Setiap perubahan kecil biasanya menimbulkan konflik. Anik sadar betul tentang soal ini. Tapi dia punya cara ampuh untuk menghadapi tekanan akibat perbedaan tekanan dan kepentingan: Dikompromikan. Bila tak bisa kompromi ya jadi konflik. Kalau konflik harus dicarikan solusi yang lebih baik. Tapi kalau masalah prinsip, ya apa boleh buat, harus saling memilih. Kalau belum sampai puncak konflik, kita masih bisa diskusikan secara rasional dan obyektif.

Dan bagaimana ia bekerjasama?”Karena saya dari keluarga besar, 10 bersaudara, saya biasa tidur rame-rame. Saya pikir pekerjaan yang dikerjakan bersama-sama akan lebih mudah,” tukas wanita kelahiran Tanjung Karang 26 Agustus 1962.

”Reformasi ini lebih banyak menghasilkan winner dari pada looser. Dalam artian saya memberikan kesempatan kepada teman-teman keuangan untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa mereka bukanlah birokrat yang jelek,”lanjutnya. ingin menjadikan depkeu yang selalu setia menjaga kepentingan negara Indonesia di tengah globalisasi, dipercaya dan dibanggakan rakyat indonesia,“

Sebagai pejabat publik, dia menginginkan anak buahnya memiliki kecintaan terhadap bangsa. Cinta itu, seperti diungkapkan Anik, seperti halnya cinta pada anak-anak kita. ”Jadi kita akan lebih mencintai pekerjaan kita karena ada cita-cita yang penting untuk bangsa. Kalau tak ada kecintaan itu, sebaiknya bekerja di privat sektor saja,” tegas Anik. Tak bermaksud menyindir, tapi rasanya akan banyak, dan jauh lebih banyak, yang tersindir. (RH)

NEW STORY

Di tengah ramainya pembicaraan mengenai Bu Aniek yang akan diangkat sebagai Managing Director di World Bank, saya teringat akan sebuah kisah yang diceritakan oleh seorang teman yang sangat dekat dengan beliau. Kisah ini sepertinya seperti menguatkan betapa powerful-nya Sri Mulyani, yang mungkin tak banyak orang yang mengetahui.

Berikut salah satu petikan ceritanya:

Pada sebuah pertemuan kenegaraan, sayang saya lupa, Presiden Amerika Barrack Obama berpidato terlalu lama. Padahal, pada jam itu seharusnya acara pidato Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Pada menit-menit menjelang waktu yang dijadwalkan, Obama belum menampakkan tanda-tanda akan mengakhiri pidatonya. Pak SBY sudah mulai kelihatan gusar dan marah. Para ajudan kebingungan dan berdiskusi pada ajudan Obama agar bos mereka menghentikan pidatonya. Namun para ajudan tersebut tak berani melakukannya. Akhirnya, pidato itu berakhir tepat pada masa istirahat. Mood Pak SBY semakin tak beraturan. Melihat kejadian itu, Bu Aniek yang kebetulan berada dalam ruangan yang sama dengan Obama dan keduanya sudah berteman baik langsung mendatangi Presiden Amerika – kok ya kebetulan Presiden Amerika itu sudah menegurnya terlebih dahulu. Tanpa basa-basi, Bu Aniek langsung bilang,” Pak Presiden, Anda mengambil waktu pidato Presiden saya. “ Obama terkaget-kaget mendengar pernyataan spontan itu. Lalu dengan cepat, Obama mencari SBY dan minta maaf atas kejadian itu. Setelah itu, SBY pun diberikan waktu khusus untuk berpidato. Senyuman lantas kembali mengembang. Seluruh tim kembali tenang.

Catatan 7 Mei 2010

Perbincangan ini terjadi pagi ini, ketika Sri Mulyani menjadi bahan pembicaraan seluruh dunia. Sayang, saya tak dapat menghubungi beliau, kendati hanya untuk mengucapkan selamat. Karena pengunjung blog saya membuncah menuju artikel ini, maka siapa lagi yang bisa saya mintakan informasi selain pada Pak Tonny?

Berikut salah satu petikannya:

Yang saya lakukan selama ini, di tengah pemberitaan, situasi perpolitikan yang panas, hanyalah menjaga Aniek supaya sehat secara fisik. Kesehatan ini sangat penting, karena ia harus menghadapi berbagai persoalan berat yang terus menghadang. Kedua, menjaga supaya ia sehat secara emosional. Bagaimanapun juga, beban yang disandang lebih banyak masalah emosional ketimbang esensi persoalan itu sendiri. Maka di rumah, saya berusaha untuk membuat suasana lebih nyaman dan tenang. Anak-anak baik-baik dan sehat-sehat saja. Semoga dengan begini, Aniek bisa lebih tenang dan nyaman.

Yang pasti, kondisi keluarga Bu Aniek sedang sibuk sekali. Mereka mempersiapkan kepindahan Bu Aniek ke Washington dalam beberapa hari ke depan. Bayangkan, hanya dalam beberapa hari, dan Bu Aniek sudah bertugas di Amerika, meninggalkan orang-orang yang selama ini membantunya. Keresahan memang terjadi di antara orang-orang terdekatnya, seperti supir dan ajudan. Tapi tahukah Anda, bahwa bu Aniek ternyata memikirkan kondisi mereka juga dan memberikan solusi atas mereka?

“Salah satu resep kekuatan Bu Aniek dalam melewati seluruh persoalan pada dirinya adalah…olah raga. Treadmill dan berenang! Ketika kepala memasuki air, seluruh persoalan seperti ikut tenggelam. Lalu ketika bergerak, ia seperti ingin membuang semua tahanan yang mengganggu pikirannya. Seusai berolah raga… ia menjadi sehat dan sungguh kuat dalam menghadapi berbagai persoalan.”

Sumber: Blog Rustika Herlambang.

About MAHFUD MD - SRI MULYANI FOR 2014

Menggagas Duet Mahfud MD dan Sri Mulyani Indrawati pada Pilpres 2014
This entry was posted in Sisi Lain Sri Mulyani. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s